Manajemen Krisis Air Kota Balikpapan
Manajemen Krisis Air Kota Balikpapan
Kota Balikpapan menjadi
salah satu kota yang sangat terkenal di Indonesia akibat kekayaan alam Kota
Balikpapan berupa minyak bumi yang saat ini di kelolah oleh beberapa perusahan
besar beberapa diantaranya adalah PT. Pertamina, Chevron dan Total E&P.
Banyaknya perusahaan besar yang beroperasi di kota Balikpapan menjadikan Kota
Balikpapan menjadi salah satu kota dengan daya tarik terbesar untuk dijadikan
sebagai tujuan masyarakat Indonesia datang ke Kota Balikpapan.
Akibat dari daya tarik
tersebut membuat Kota Balikpapan mengalami pertambahan penduduk. Berdasarkan
data dari BPS pada Tahun 2014 Jumlah migrasi masuk yang ada di Kota Balikpapan
sebanyak 34.500 jiwa. Angka ini lebih besar 4 kali lipat dari migrasi keluar
Kota Balikpapan yaitu sebesar 9.325 Jiwa. Angka ini cukup fantastic dalam
perkembangan kota Balikpapan. Dengan bertambahnya jumlah penduduk kota
Balikpapan akan berdampak terhadap penigkatan berbagai macam aspek di Kota
Balikpapan. Salah satu aspek yang akan berdampak adalah peningkatan kebutuhan
akan air bersih
Peningkatan kebutuhan air
bersih sangat diperlukan mengingat air menjadi kebutuhan yang sangat tinggi
permintaannya. Saat ini Kota Balikpapan mengalami peningkatan jumlah pengguna
air bersih yang cukup tinggi. Pada tahun 2016 pengguna air PDAM mencapai 95.781
pelanggan dimana pengguna terbesar adalah Rumah Tangga. Sedangkan pada tahun
2015 Jumlah pengguna air PDAM sebesar 93.279 pelanggan. Dengan semakin
meningkatnya jumlah pengguna air bersih ini perlunya dilakukan manajemen
penyediaan air yang dilakukan oleh pemerintah Balikpapan.
Penanganan penyediaan air
bersih di Kota Balikpapan perlu diperhatikan dari sebab, masalah, dan juga
gejala dari permasalahan yang terjadi. Dimulai dari langkah awal dimana penyebab
Balikapapan mengalami krisi air bersih. Jika dilihat secara umum, jumlah
penduduk Kota Balikpapan semakin bertambah. Jumlah penduduk yang bertambah di
Kota Balikpapan bukan disebabkan oleh angka kelahiran yang tinggi, melainkan
jumlah migrasi masuk yang sangat tinggi. Jumlah penduduk yang masuk
mengakibatkan jumlah penduduk yang membutuhkan air juga semakin meningkat.
Peningkatan kebutuhan akan
ketersediaan air menjadi salah satu penyebab dari krisis air bersih yang
dialami oleh masyarakat Kota Balikpapan. Kemudian penyebab lainnya yaitu
berasal dari kurangnya sumber air bersih yang dapat dimanfaatkan dan dikelola
secara mandiri oleh masyarakat yang dapat membantu dalam penyediaan kebutuhan
air. Selanjutnya adalah kondisi dari Waduk yang dimiliki oleh Kota Balikpapan,
dimana saat ini Waduk Manggar adalah salah satu penyuplai air Kota Balikpapan,
sedangkan Waduk yang berada di Teritip baru bisa di operasikan pada tahun 2019.
Masalah yang dihasilkan
dari berbagai penyebab itupun beragam selain dari kelangkaan air, permasalahan
disektor ekonomi juga dapat muncul akibat dari banyaknya industri rumahan yang
memanfaatkan air dari PDAM akan menyebabkan operasi dari industri rumahan
tersebut akan terhambat baik secara langsung, maupun tidak langsung. Dengan hadirnya
satu permasalahan ini tidak dapat dihindari akan membuat permasalah baru yang
berdampak pada masyarakat.
Gejala dari permasalahan
ini dapat dilihat dari beberapa hal. Sebagian diantaranya adalah sering matinya
air pada musim kemarau akibat waduk yang mengalami penurunan ketinggian air, selain
itu peningkatan barang produksi yang berasal dari industri rumahan yang sangat
bergantung pada air bersih. Dengan adanya permasalahan ini pemerintah harus
dapat melakukan beberapa penanganan yang dapat berdampak langsung ke
masyarakat. Salah satu cara yang dapt pemerintah lakukan adalah membuat
sumur-sumur yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara mandiri.
Hal ini pernah dilakukan
oleh 2 kelurahan di Kota Semarang. Kedua kelurahan ini adalah kelurahan Sukorejo
dan kelurahan Tugurejo. Pada kelurahan Sukorejo, terletak didaerah pegunungan
dan mayarakatnya banyak bekerja sebagai pemulung dan pedagang seperti warung
dan pedagang keliling. Masyarakat di kelurahan ini membuat pengelolaan air yang
dibantu oleh Yayasan Soegijapramata. Masyarakat bersama-sama dengan yayasan
memanfaatkan mata air yang ada dengan cara mendistribusikan air dari mata air
menuju setiap RT yang ada di Kelurahan tersebut dimana setiap RT memiliki
tendon sebagai penampung air yang dimanfaatkan masyarakat secarabersamaan.
Sedangkan untuk kelurahan
Tugurejo kondisinya cukup kontras dengan yang ada di Kelurahan Sukorejo,dimana kelurahan ini berada dipinggir laut. Kondisi
ini membuat sumure warga banyak yang terinfiltrasi oleh air laut, hal ini membuat
masyarakat sangat terbatas dalam memanfaatkan sumum yang ada. Di Kelurahan ini
sebenarnya terdapat sumur artesis yang sudah ada sejak zaman Belanda. Akan
tetapi karena tidak ada yang mengurus dan dana membuat sumur ini tidak
beroperasi, namun pada Tahun 2004, sekelompok masyarakat mulai mengajak
perusahaan disekitar untuk membantu dalam pengelolaan sumur tersebut yang
membuat masyarakat dapat memanfaatkan sumur tersebut secara maksimal.
Kedua contoh tersebut
dapat dimanfaatkan oleh pemerintah kota Balikpapan dalam mengatasi permasalahan
krisis air bersih yang ada. Pemerintah dapat bekerjasama dengan pihak swasta
serta masyarakat dalam pembuatan sumur baru untuk dijadikan sumber mata air
yang dapat membantu dalam penyediaan air di masyarakat. Namun dalam
pelaksanaanya perlu adanya pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat,
pemerintah dan pihak swasta dalam pemanfaatan sumur baru tersebut.
Daftar Pustaka
Rachmawati,
Laksmi dan Surtiari, Gusti Ayu Ketut.,2011.Pengelolaan
Air Berbasis Masyarakat: Pembelajaran dari Kota Semarang. Pusat Penelitian
Kependudukan LIPI.Indoonesia
Komentar
Posting Komentar