Dampak Permukiman Kota Terhadap Ekosistem Mangrove

Dampak Permukiman Selambai Kota Bontang Terhadap Ekosistem Mangrove
Erda Pagesong 08151011
Jurusan Teknik Sipil Dan Perencanaan, Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota            
Institut Teknologi Kalimantan
Indonesia merupakan Negara Kepulauan dimana dari Sabang sampai Merauke Indonesia memiliki banyak pulau-pulau yang terdiri dari pulau-pulau besar hingga pulau-pulau yang kecil, dari pulau-pulau berpenghuni hingga yang tidak berpenghuni. Total pulau yang dimiliki Indonesia adalah 17.508 buah. Selain itu Indonesia sendiri memiliki laut terluas di dunia yaitu 3,9 juta km2. Dengan jumlah sekian banyak membuat Indonesia sangat pantas disebut dengan negara Maritim terbesar di dunia.
            Secara gegografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang sangat besar menciptakan kebudayaan yang bermacam-macam terutama untuk daerah pesisir. Salah satunya adalah permukiman. Permukiman yang dimaksud adalah dimana banyak masyarakat Indonesia yang tinggal diwilayah pesisirmembuat permukiman yang berada diatas air. Pada umumnya masyarakat yang tinggal diwilayah pesisir ini memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Adanya pemukiman ini membuat berbagai macam dampak yang diberikan kepada ekosistem pesisir disekitarnya mulai dari dampak positif hingga negatif.
            Jika mengacu pada undang-undang No 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan permukian tertulis bahwa kawasan permukiman merupakan bagian dari lingkungan hidup yang letaknya berada di luar kawasan lindung serta memiliki fungsi sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Sehingga dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa permukiman harus mendukung perikehidupan dan penghidupan didalamnya.
            Salah satu permukiman yang ada diatas air ada di kota Bontang , yaitu permukiman Selambai yang berada di Kelurahan Loktuan Kecamatan Bontang Utara. Permukiman ini dapat dikatan sebagai permukiman nelayan yang ada di kota Bontang karenya banyaknya penduduk yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan.  Permukiman ini merupakan salah satu permukiman padat penduduk. ciri khas dari permukiman ini adalah keselurah permukiman disini adalah rumah panggung yang terdiri dari rumah non permanen hingga semi permanen.
            Permukiman Selambai yang letaknya berada dipinggir laut ini terbentuk tanpa adanya perencanaan. Akibat dari tidak terencananya permukiman ini membuat permukiman ini memberikan kesan kumuh dan kotor. Kesan kumuh pada permukiman ini semakin diperparah ketika air surut. Hal ini karena banyaknya lumpur yang mengendap selain itu banyaknya sampah membuat kesan kumuh yang diberikan semakin parah.
Akibat dari masyarakat yang sering membuang sampah langsung kelaut membuat kondisi ekosistem pesisir disekitar permukiman menjadi terganggu. Salah satu yang terkena dampak adalah ekosistem Mangrove. Banyak sekali sampah yang menyangkut diakar mangrove membuat terganggunya ekosistem mangrove tersebut. hal yang membahayakan adalah apabila ikan-ikan yang tinggal di mangrove memakan sampah padat non organic yang akan membahayakan ikan-ikan tersebut. Tak hanya ikan, manusia yang mengkonsumsi ikan-ikan tersebut juga akan terancam kesehatannya. Selain limbah padat limbah cair yang dihasilkan oleh warga sekitar dapat memberikan dampak yang langsung kepada ekosistem di Mangrove mengingat setiap makhluk hidup di sekitar pesisir tersebut juga mengkonsumsi air laut tersebut.
Pertumbuhan permukiman Selambai tersebut dapat dikatakan cukup pesat. Hal ini mengakibatkan berkurangnya tempat tinggal dari makhluk hidup di sekitarnya. Salah satu yang telah terjadi adalah seringnya muncul buaya air asin disekitar permukiman.kemunculan buaya air asin ini bisa saja diakibatkan oleh terganggunya ekosistem tempat mereka mencari makan akibat dari pertumbuhan permukiman yang cukup pesat dan juga dampak dari limbah rumah tangga baik berupa limbah cair ataupun limbah padat.
Jika terus dibiarkan, pertumbuhan permukiman yang semakin cepat dan kebiasaan masayarakat yang terus saja mebuaang sampah ke laut akan memberikan dampak yang sangat besar terhadap ekosistem pesisir disekitarnya dan memungkinkan efek domino, dimana ketika masyarakat mebuang limbah rumah tangga ke laut maka akan mencemari laut beserta makhluk hidup didalamnya terutama dalam rantai makanan. Jika rantai makanan dan tempat tinggal dari makhluk hidup tersebut rusak maka akan membuat makhluk hidup tersebut mencari lokasi terdekat untuk mencari makan, dan yang paling terdekat adalah permukiman warga. Jika dalam rantai makanan tersebut predator yaitu buaya masuk kedalam permukiman warga maka akan membahayakan keselamatan warga disekitarnya.
Untuk dapat menghambat hingga dapat menghentikan dampak tersebut pemerintah perlu membuat terobosan yang dapat efektif di terapkan untuk permaslahan tersebut. beberapa terobosan yang dapat pemerintah sekitar terapkan adalah seperti melakukan zonasi antara permukiman dan juga kawasan mangrove. Selain itu pemerintah harus menyediakan sistem sanitasi yang tepat untuk masyarakat yang tinggal diatas air sehingga msayrakat tidak membuang limbah rumah tangga cair ke laut. Sedangkan untuk limbah padat pemerintah setempat atau stakeholder terkait harus menyediakan tempat sampah umum yang dibuang pada jam-jam tertentu. Untuk  memulihkan kawasan mangrove pemerintah harus dapat melakukan perbaikan mangrove dengan penanaman kembali



Daftar Pustaka

Nova ,Elly Luchritia. 2010. Peremajaan Permukiman Kumuh Di Kelurahan Gunung Elai, Lok Tuan, Dan Guntung Kota Bontang. Semarang:Universitas Diponegoro

Undang-Undang Republik Indonesia.2011. Undang-Undang No 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan Dan Permukian. Indonesia: Pemerintah Republik Indonesia

Komentar

Postingan Populer